Author Archive for inimelgue



04
Aug

Pencalonan Saya Untuk DPD RI Banten : Sebuah Profil Singkat

Adalah
sebuah mahakarya bagi saya mencalonkan diri sebagai anggota DPD. Mengingat.
saya adalah “wong cilik” saya sama persis dengan anda semua, bukan siapa-siapa.

 

Saya
bukanlah anak seorang tokoh besar, atau anak pejabat yang memiliki pengaruh
yang luas, saya juga bukan orang yang memiliki kelebihan materi, justru
sebaliknya saya hanyalah anak seorang pensiunan PNS dengan pangkat dan golongan
yang sangat biasa-biasa saja. Dan secara sangat kebetulan dilahirkan dari
seorang bunda yang memiliki semangat bekerja keras. Karena sadar bahkan saya
terlahir bukan dari keluarga yang sangat mampu.

 

Meski
demikian ada segenggam cita-cita dan idealisme, bahwa Banten memiliki
potensinya yang besar. Dan saya bertekad mewujudkan Banten yang bersih anti KKN.
Banten yag lebih Plural dan majemuk, dengan memberikan penghargaan
setinggi-tinggi bagi mereka yang berprestasi sehingga kita harus membangun Poros
Keadilan, Poros Kesempatan, Poros Pemerataan dan Poros Kesejahteraan bersama.

dan tugas seorang anggota DPD alias Senator adalah menjembatani Banten dengan
kekuasaan Pusat, seharusnya pula menjembatani Banten dengan dunia internasional.
Dan ini telah tertanam tatkala masih menjadi aktivis Universitas

Indonesia

pada masa awal reformasi 1998.

 

Sebagai
anak yang dilahirkan di Kp. Sempu Kelapaendep, Cipare Serang dan besar di
wilayah Karawaci Tangerang, Saya dapat memahami Banten dengan ragam aktivitas
pola masyarakatnya yang terisi dengan kemajemukan. Dan ini menjadi modal spirit
bagi saya untuk menunjukan kepada dunia bahwa Banten unik dengan perpaduan
nilai tradisionalnya yang religius dan juga turbulensi kemajuannya yang dapat
berjalan selaras disisi lainnya. Inilah Banten tempat ribuan Industri
berkembang, namun kita juga dapat melihat masyarakat Baduy yang unik disisi
lainnya.

 

Terekam
betul dalam ingatan saya ketika masa kecil dulu, kala kakek saya SM.Tohir,
seorang mantri kesehatan yang juga seorang mantan pejuang. Ketika beliau
berkelana dari satu kampung-ke kampung yang lain, dari satu pelosok ke pelosok
yang lain untuk mengobati pasien-pasiennya, masih terngiang betul dalam memori
saya, ketika Masyarakat membayarnya dengan hasil kebun atau panen mereka,
seperti singkong, Pepaya, atau bahkan ayam kampung yang masih hidup. Itu semua
memori yang makin menebalkan keinginan saya, kalau Kakek saya saja bisa
memberikan kontribusinya tanpa pamrih lantas kenapa tidak jua dengan saya, Dan
Saya berjanji, Jika terpilih Menjadi
Senator (DPD) saya akan mengembalikan gaji saya kepada masyarakat Banten
.

 

Sekali
lagi adalah sebuah mahakarya bagi saya, yang ternyata harus siap bertandang ke
gelanggang dimana saya akan bersaing dengan anak Bupati bahkan anak Gubernur,
bahkan dengan para mantan pejabat-pejabat baik daerah maupun mantan pejabat
Pusat.

 

Namun
saya ingin memberikan dorongan kepada anak-anak muda seperti saya untuk
berperan aktif memberikan sumbangsihnya bagi pertiwi khususnya Banten yang
tercinta. Siapapun mereka tanpa terkecuali dan tanpa mengecilkan pentingnya perean
mereka dalam roda demokrasi dan kemajemukan.

 

Seperti
saya dan banyak orang lainnya, apalagi mereka yang ternyata memiliki prestasi
yang boleh dibilang membanggakan dalam berbagai hal. Orang kecil seperti saya,
seperti anda juga tidak lantas patah arang untuk memperjuangkan diri anda untuk
melesat maju. Sebab dengan demikian ini akan memompa semangat anak muda lainnya
untuk Maju tanpa menghiraukan kekurangan mereka kecuali istiqomah (teguh
berpendirian) untuk memberikan sumbangsihnya. Amin.

02
Aug

Surganya Para Pecinta Dan Keikhlasan

Menurut suatu hadits, beberapa orang akan bangkit di hari Pembalasan (Kiamat) dalam suatu keadaan, di mana ketika mereka melihat Allah, mereka akan tersenyum, dan ketika melihat mereka, Allah akan tersenyum. Suatu suara kemudian akan terdengar,
Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30). Mereka yang mencintai Allah , dan juga, mereka yang saling mencintai satu sama lain karena Allah akan dikaruniai perlindungan di bawah ‘Arsy (singgasana) Allah . Pada hari itu tak ada naungan kecuali naungan ‘Arsy. Bagi orang-orang awam, Hari Penghakiman akan berlangsung selama 70.000 tahun; sementara, bagi para pecinta, Hari itu hanya akan berlangsung selama dua raka’at shalat sunnah sebelum shalat Subuh. Mereka akan berjalan-jalan di atas bukit-bukit misik dan melihat keindahan (jamaal) dari Yang Paling Dicintai .

Para pecinta tak akan disusahkan dengan Pergolakan di Hari Penghakiman, Para pecinta tak memiliki perhatian apa pun, Selain memandang keindahan Ia yang mereka cintai.
Beberapa pecinta demikian tenggelam dalam kerinduan mereka terhadap Allah sehingga mereka akan segera berlarian menuju gerbang-gerbang Surga [jannah] dan bertanya pada penjaganya, Malaikat Ridwan as, "Kami telah diberitahu di dunia bahwa di Surga seseorang akan dikaruniai penglihatan yang indah atas Allah." Malaikat Ridwan as akan bertanya pada Allah, "Oh Tuhan, neraca keadilan [mizan] belum juga ditimbang, tetapi orang-orang ini telah meminta masuk ke dalam Surga?" Allah akan berkata pada mereka, "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian masih harus menghitung amal-amal kalian, tetapi kalian sudah ingin masuk Surga?" Para pecinta akan menjawab, "Wahai Tuhan kami, Yang Maha Pemurah, Engkau tahu benar bahwa kami telah memalingkan diri kami dari dunia material, dan mengabdikan diri kami sepenuhnya bagi-Mu.

Kalbu-kalbu kami tak lagi menginginkan harta-harta dunia dan kami selalu puas atas apa yang ada pada kami. Kami mencintai-Mu dan menyembah-Mu sepanjang malam, dahi-dahi kami dalam keadaan sujud. Kami shalat dan berdoa kepada-Mu dari kedalaman kalbu kami. Kami lewatkan malam-malam kami tanpa istirahat, hanya mengharap keridhaan-Mu. Saat kematian kami, tak ada yang kami miliki dalam kalbu kami selain kecintaan pada-Mu." Allah akan berkata pada Malaikat Ridwan as, "Wahai Ridwan as! Ini adalah para pecinta-Ku, perhitungan macam apa yang harus dilakukan pada mereka? Bukalah pintu-pintu jannah dan biarkan mereka masuk tanpa harus memperhitungkan amal-amal mereka."

Menurut suatu hadits, pada hari Penghakiman, Allah akan menyatakan penyesalan pada para pecinta yang menghadapi kesengsaraan dalam kehidupan material dunianya dan hidup dalam pemantangan hawa nafsunya, dalam keadaan tetap miskin dan lapar. Allah akan menunjukkan rasa simpati-Nya di hadapan mereka, sama seperti seorang teman yang merasa bersalah di hadapan teman lainnya karena tak mampu memberinya suatu hadiah atau pemberian. Pada Hari Pembalasan nanti, para pecinta akan ditempatkan di dekat danau [haud] Kautsar. Kekasih Tercinta Allah dan juga rahmat bagi seluruh alam (rahmah lil-’alamin), Nabi Muhammad saw akan mengisi gelas-gelas dengan air dari danau itu untuk mereka minum. Beliau akan mengenali setiap pengikutnya dengan adanya nur [radian spiritual] yang memancar keluar dari anggota-anggota tubuh yang biasa mereka basuh saat melakukan wudhu’. Bahkan para malaikat akan senang ketika mereka melihat orang-orang ini sebagai pengikut [ummah] dari Nabi Muhammad saw.

Saat mereka sampai di padang-padang pengadilan, Malaikat-malaikat yang takjub akan bangkit dan berseru, Pelayan dari pelayan dari pelayan Muhammad telah tiba! Kerasnya Hari Pembalasan akan menimpa kaum yang ingkar (kuffar), dan kaum yang membuat sekutu bagi Allah [musyrikin], kaum munafik, dan para pendosa [fasiqin]. Para pecinta akan menyeberangi jembatan [sirath] di atas Neraka secepat hembusan angin. Panas api Neraka akan tersejukkan oleh cahaya [nur] dari iman mereka sedemikian hingga Neraka itu sendiri akan berteriak dan meminta para pecinta untuk melaluinya dengan cepat, agar iman mereka tidak memadamkan api-apinya.

Pada Hari Pembalasan ini pula, Allah akan mengaruniakan pada para pecinta itu hak untuk memberikan syafa’ah. Mereka akan membawa beserta mereka banyak pendosa, menuju ke dalam Surga. Para pecinta tak akan dikenai kerasnya Hari Pembalasan itu, dan mereka sendiri akan menjadi wasilah (perantara) bagi yang lain untuk keluar dari kerasnya hari itu. Suatu nur indah akan terpancar di muka mereka, memimpin mereka menuju pintu-pintu Surga: Dan orang-orang yang takut (taqwa) pada Tuhan mereka akan dibawa ke dalam surga dalam rombongan-rombongan… (39:73)

Pada hari Pembalasan, Allah akan memberikan balasan istimewa bagi mereka yang menanamkan cinta kepada Allah dalam kalbu-kalbu saudara-saudaranya yang lain. Pada hari saat mana kekayaan dan anak-anak tak akan berguna. Hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.(26:88-89). Orang-orang mu’min itu yang melewati kehidupan sementara (di dunia) ini sebagai seorang miskin dan fakir akan diperlakukan sebagai tamu-tamu kehormatan di Hari Pembalasan. Diriwayatkan dalam suatu hadits bahwa Nabi saw biasa berdoa: Ya Allah, biarkan aku hidup sebagai seorang fakir dan mati sebagai seorang fakir. Dan bangkitkan aku di antara kaum fakir di hari Pengadilan nanti.

Ya Allah, karuniakan padaku kalbu yang dipenuhi kecintaan pada-Mu, dan semoga rahmah-Mu selalu turun atas kalbuku, Karuniakan padaku suatu kalbu yang tenggelam dalam kerinduan pada-Mu agar aku terlupa akan hiruk-pikuk Hari Pembalasan.

26
May

TOPI WAHIDIN KOK AMAZING THAILAND

Topi, Piknik Dan Wahidin Halim

Mohamad Hamdan
Mantan Aktivis UI ‘98

Tentu kita semua tahu bahwa fungsi utama dari Topi adalah menutupi bagian atas kepala, entah itu dari hujan ataupun bisa juga dari sengatan matahari yang kian hari cukup tidak bersahabat. Apalagi dikaitkan dengan isu pemanasan global yang makin membanjiri ruang public kita belakangan ini.

Namun demikian ada yang menarik dari sebuah foto yang terpampang sangat besar di banyak tempat belakangan, terutama di sudut-sudut ruang di kota Tangerang ini. Bukan lantaran tulisan pada spanduk tersebut yang berlanggam tentang pemberantasan Narkoba : TEMPAT PALING TEPAT BAGI PENGEDAR NARKOBA ADALAH PENJARA, atau tentang Langgam Spirit Kota Tangerang yang bertema-kan selalu AKHLAQUL KARIMAH. Dibalik itu ada sebuah foto yang sangat menggelitik saya selaku penulis, yaitu : Topi yang dipakai oleh Bapak Walikota Tangerang saat ini yakni Wahidin Halim.

Ada apa dengan topi? Ada apa dengan topi yang di pakai Bapak Walikota ini? Siang malam foto dari spanduk besar ini terpampang dengan sangat terbuka, lengkap dengan ragam dan aneka tema-nya seperti saya ulas sedikit diatas. Setiap kali melewatinya Saya terus menerus memperbincangkan dengan diri saya sendiri, sehingga sampai tercurahkan dalam tulisan saya ini.

Bahwa saya begitu bangga, karena Walikota Tangerang ini, ternyata punya apreasiasi sangat lumayan mengenai pariwisata, terbukti bahwa topi yang dikenakannya tersebut ternyata bertuliskan AMAZING THAILAND, tentu saja asumsi saya bahwa topi tersebut didapat sebagai oleh-oleh dari Negeri Siam—Thailand. Negara tetangga kita ini memang boleh diakui diatas bangsa kita dalam menyedot wisatawan manca Negara. Termasuk juga wisatawan regional seperti dari Indonesia sendiri tentunya.

Daya pikat dari Thailand memang tak terbantahkan sehingga seorang Kepala Daerah di sebuah kota di Indonesia pun ternyata kepincut mengenakan topi tersebut. Alhasil Topi tersebut ikut menyeruak menjadi icon yang setiap harinya terlihat dan diperhatikan oleh seluruh warga Negara Kota Tangerang, dan salah satu diantaranya adalah penulis sendiri.

Asumsi saya yang kedua adalah bahwa Foto tersebut berasal dari bagian dokumentasi kedinasan, sehingga tentu saja milik internal pemerintahan. Dan sebagaimana kita mengerti bersama bahwa kemampuan pencitraan aparatur terbatas pada kemampuan mengkliping, dan sesekali mereklamasi dalam bentuk media internal atau sesekali pula merelease pesan dari kegiatan top leader menjadi tampilan dengan suguhan yang sentuhan artivisual dan kemampuan artistikal yang sedikit terabaikan untuk sekedar mengganti kemampuan minimalis artivisual. Alhasil topi tersebut menyelinap secara sangat “tidak sengaja” menampilkan Bapak Walikota Tangerang menjadi bintang iklan AMAZING THAILAND.

Bintang Iklan kah Walikota Tangerang? Menurut hemat saya belum cukup alasan mengarah kesana, meski demikian, untuk sebagian orang yang sangat jeli, menampilkan seorang Kepala Pemerintahan dengan atribut tertentu, tentu saja memberikan pesan moral yang sama besarnya. Seperti halnya di setiap waralaba atau apotik anda akan temukan poster Bapak Presiden SBY, Bapak Wakil Presiden dan Ibu Menteri Kesehatan memegang botol-botol obat generik. Ini tentu saja sangat sengaja untuk memberikan pesan sangat kuat pada masyarakat bahwa. Pemerintah serius memperhatikan kesehatan masyarakat dengan mendorong penggunaan obat generic.

Lalu bagaimanakah Pesan topi tersebut tersampaikan. Dengan analogi obat generic tadi, tentu lagi saya berbangga bahwa apresiasi Walikota Tangerang mengenai Pariwisata cukup menggembirakan, meski demikian pernahkah terbersit dalam benak anda menjadikan kota Tangerang, sebagai tujuan wisata tanah air, atau mungkin juga regional dan manca Negara?

Dan sebagaimana oleh-oleh tentu saja orang yang memakainya akan dikaitkan dengan kunjungan, pergunjingan tentang kunjungan ke sebuah Negara, apapun jenis lawatannya tentu saja tidak dapat dipungkiri dengan kata berlibur, alias piknik. Ini artinya Wahidin Halim sendiri tentu akan di pergunjingkan. Membawa oleh-oleh “piknik”. Tanpa menyisakan arti kunjungannya yang boleh jadi mungkin dalam rangka kedinasan dan seterusnya. Lalu apa jadinya citra seorang Kepala Pemerintahan hanya sekedar piknik saja mesti ke Negeri Siam-ini lagi-lagi bertolak belakang dengan upaya pemerintah menggulirkan Visit Indonesian Year 2008.

Bila tulisan yang berada di Topi tersebut, I LOVE BALI, misalnya tentu kita sangat mafhum bahwa sebagai sesama Kepala Pemerintahan Daerah mungkin saja Walikota Tangerang ingin mempublikasikan secara sangat sengaja membantu program Visit Indonesian Year 2008, dan sebagai sesama anak bangsa kita bangga memiliki Bali yang mendunia.

Bicara tentang pariwisata, khususnya di Kota Tangerang ini, menurut hemat penulis, jarang kita temukan keinginan, Tangerang untuk menjadi destinasi wisata, sebelum hal tersebut, tentu saja Pariwisata memerlukan komponen sebagai prasyarat, terutama sekali sumber daya alam yang eksotis, sumber daya manusia yang terbuka, dengan ranah kultur yang mampu memberikan keleluasaan bagi para wisatawan itu sendiri.

Alih-alih menseriusi persoalan keinginan tersebut, menurut saya juga ada persoalan cukup serius, bahwa pesan yang dapat diapresiasi oleh masyarakat dari Kepala Pemerintahan yang seolah membangun pencitraan dari pesan yang tertulis, justru Foto dari Topi tersebut membangun citra yang bias sangat mungkin bertolak belakang dengan tema kunjungan pariwisata, atau bahkan jangan-jangan mengandung persoalan sedikitnya moralitas pemimpin dalam mencintai bangsa sendiri.

Bagaimana mungkin kita bicara tentang bangganya kita sebagai Warga Negara Kota Tangerang yang mampu mencintai Daerahnya sendiri, alih-alih justru di contohkan oleh pemimpinnya untuk mencintai bangsa lain. Memang tidak akan sampai kearah tersebut meski demikian tentu saja mengindikasikan dari awal bahwa. Begitu mudah dan longgarnya sensor serta audit pencitraan bahkan hal sangat kecil namun mendasar ternyata mudah terabaikan.

Meski demikian menurut hemat saya belum terlambat untuk memperbaiki hal tersebut, meskipun pencitraan ini bisa sangat mungkin menjadi boomerang dikemudian hari apabila tidak segera di perbaiki.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hari-hari belakangan ini mendekati jadwal turbulensi politik yakni Pilkada, tentu suhu politik di tubuh wilayah Tangerang ini akan kian menghangat mengingat, tentu saja akan ada arena kompetisi disana, dan bisa jadi hal ini akan digunakan oleh lawan politik atau yang berseberangan dengan Bapak Walikota Wahidin Halim yang saat ini menjadi incumbent untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk menyerang. Dan tentu saja sebuah perkara yang setidaknya “menyelinap” secara sepele tadi justru menjadi katalis untuk meruntuhkan pencitraan kepemimpinan yang terbangun justru untuk menciptakan masyarakat yang ber Akhlaqul Karimah. Termasuk diantaranya tentu mencintai negeri sendiri adalah sikap Akhlaqul Karimah.

Meski demikian sampai sejauh ini menurut penulis belum sampai ada yang melontarkan isu ini, namun akan sangat kurang sedap dan “indah” apabila arena demokrasi di Kota Tangerang yang akan berlangsung pada waktunya nanti justru “menyelinap” isu yang diam-diam memang menyelinap secara sangat tidak disengaja, seperti saya utarakan diatas.

Karena ketidakcermatan tertentu justru “menyelinap” isu-isu yang bukan seharusnya menjadi isu subtansial. Masalah pembangunan dan persoalan lainnya yang memerlukan komando kepemimpinan yang jauh lebih vital. Karena bagaimanapun keberhasilan Pembangunan di Kota Tangerang ini juga harus kita cermati secara jeli, baik itu dengan bersikap kritis maupun dengan memberikan dukungan yang semestinya.

Mohamad Hamdan
Warga Negara Kota Tangerang

Nama : Mohamad Hamdan
Alamat : Jl. Cempaka 1 No. 38 Perumnas Karawaci Tangerang
Alamat Email : Mohamadhamdan1976@yahoo.com
Telp : 02198807697//0818719069

02
Feb

Memaafkan Demi Masa Depan

Memaafkan Demi
Masa Depan

 

Mohamad Hamdan

Mantan Aktivis UI – ‘98

 

Inna
lillahi Wa inna illaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah, Jenderal besar
HM. Soeharto, pada minggu 27 Januari 2008, pada pukul 13.10.  Berita ini saya dapat tatkala pulang dari
rumah sakit, saat orang tua saya juga tengah terbaring sakit didalam ruang ICU
sehabis operasi malam sebelumnya, dan selesai tepat tatkala Christ John memukul
KO lawannya Ronnet Cabalero dari

Panama

.

 

Masih
di awalan tahun 2008 ini, dan kita harus kehilangan dua tokoh besar. Selain Pak
Harto. Hari yang sama juga kita mendengar sang penyebar berita kemerdekaan
pendiri stasiun siaran nasional yang lahirnya bernama RRI Yusuf Ronodipuro pun
menutup usianya. Meski demikian porsi terbesar dan sangat berpengaruh dalam
logika “berita”kita tentu masih berkutat dengan berita tentang Pak Harto.

 

Makin meruncing pro - kontra terhadap keberadaan HM. Soeharto.

Ada

barisan yang
tiba-tiba bersuara lantang menekankan pentingnya memaafkan, meski mungkin juga tanpa
tahu letak kesalahannya. Barisan lain bersikukuh mengadili, seolah begitu
mengerti dan memahami persis letak kesalahannya. Sementara sang penguasa Orde
Baru tersebut yang sudah menjalani perawatan selama 24 hari, saat ini telah
tiada.

 

SOEHARTO,
SOEHARTOIS dan SOEHARTOISME

 

Saya kira ada 3 komponen penting kekuatan Cendana penguasa era orde baru
itu sendiri, yakni Soeharto sebagai variable pertama dan kemudian Soehartois
yakni para pengikutnya dan Soehartoisme yakni paradigma kekuasaannya. Dan kita
sebagai generasi yang sepatutnya cerdas melahap informasi hari ini. Tentu mampu
membedakannya.

 

Tanpa memberikan pengkultusan pada sosok pak Harto, saya kira siapapun
tidak bisa membantah bahwa pak Harto memiliki arti penting kita mesti jernih
melihat sosok soharto sendiri yang hidup sederhana, penuh dengan nilai-nilai
dan falsafah, sebuah sosok yang jarang di jumpai pada masa sekarang ini,
mengingat kita memang semakin krisis kenegarawanan.

 

Ia di lingkari oleh bawahannya yang menikmati kue dan posisi mereka untuk
saling berkompetisi menjadi yang paling menyenangkan di depan pak Harto. Kita
tentu masih ingat pada paradigma ABS—Asal Bapak Senang, segala macam akrobat
dilakukan untuk menyenangkan pak Harto, hasilnya menempatkan Soeharto diatas
angin dan bersamaan falsafah hidupnya yang kuat dari nilai jawa yang statis,
terciptalah paradigma stabilitas. Stabilitas tentu saja harga mati yang tidak
bisa ditawar. Maka bercak-bercak yang menodai stabilitas tentu saja
berkonsekuensi diamankan.

 

Makin hari makin dilingkari oleh variabel kekuasaan yang penjilat maka
tidak urung pembangunan makin melenceng ke pendulum yang berbeda dari
cita-citanya awalnya untuk menciptakan stabilitas, pertumbuhan dan akan di
akhiri dengan pemerataan. Lupa bahwa kue pembangunan yang makin membesar mereka
yang dibesarkan Soehartopun bergerak leluasa sementara bahwa pemerataan alpa
segera dilakukan.

 

Hal ini lebih banyak di untungkan oleh kroni pak Harto fase awal, pada
saat menyadari pemerataan belum terjadi, kroni fase pertama justru berbalik
arah karena sukar membagi porsinya terlena akan kue yang terus disantap oleh
mereka sendiri, sehingga kekuatan-kekuatan ekonomi yang kurang tersebar secara
merata tersebut melahirkan gap dan kesenjangan dan kita bisa lihat pada akhir
masa kekuasaan pak Harto diwarnai kontestasi kerusuhan bermuatan SARA, ini membuka
mata kita semua bahwa ada persoalan dengan pembagian kue pembangunan.

 

Soeharto hidup dengan falsafah yang saya kira luhur dengan budi pekerti
yang tinggi dan ini dapat dilihat dari kemampuannya mengontrol emosi namun dia
dikelilingi kroni yang penjilat dan membusukkan, sehingga pengaruhnya pada
paradigma pembangunan melesak jauh dari pakem yang di cetuskannya sendiri. Jika
boleh disederhanakan maka Soeharto dikelilingi oleh kroni penjilat sehingga
menghasilkan Soeharto yang otoriter dan haram di kritik.

 

Kita tentu punya relung maaf untuk pak Harto namun tidak sedikitpun
memberikan peluang kembalinya Soehartoisme apalagi munculnya Soehartois. Kita
harus memaafkan Soeharto tapi tidak mengulangi Soehartoisme, kita harus memulihkan
dan merehabilitasi Soeharto tapi juga menunjukan bahwa di masa kekuasaannya ada
banyak kesalahan yang beliau juga punya andil.

 

Memang terlalu gegabah menganggap pak Harto pahlawan tapi juga terlalu
mempolitisir kalau menghujat jasanya Soeharto, sosok pemimpin bangsa

Indonesia

, yang pernah berkuasa
di jamannya. Dan jasa serta kesalahannya perlu kita timbang seraya bertanya, begitupun
ada kesalahan, haruskah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya?

 

Bukankah ini lebih menunjukan kesalahan kolektif kita sebagai bangsa,
karena pada saat itu tentu ada kroni yang hilir mudik mengelilinginya. Belum
lagi intrepretasi bawahannya yang menerjemahkan kebijakannya belum tentu persis
sama dengan keinginan Pak Harto sendiri. Sehingga tidak heran ada jarak
resonansi antara Pak Harto dengan bawahannya.

 

Persoalan HAM, kasus korupsi, penyelewengan kekuasaan dan kasus demi
kasus dibawah kepemimpinan Soeharto jelas begitu berderet, Disisi lain mata
uang yang sama stabilitas, pertumbuhan ekonomi, swasembada pangan, gelanggang
Asean dan stabilisator kawasan juga merupakan prestasi yang tidak boleh kita
nihilkan begitu rupa.

 

Atau serangan umum 1 Maret, dalam konteks diplomasi kemerdekaan, operasi
mandala dalam perebutan irian barat, apakah anda bisa begitu saja menafikkan?
Ingat kita pernah menjadi pemain telekomunikasi yang paling di segani di
kawasan, itu juga karena andil Pak Harto yang menginstruksikan diluncurkannya
satelite SKSD Palapa.

 

Inilah era reformasi yang sesungguhnya yang diwarnai dengan rekonsiliasi
yang sesungguhnya yang berdiri diatas koridor hukum namun tanpa juga
berpretensi mengerdilkan arti jasa para pahlawannya.

 

Sebagai bangsa yang besar yang ingin mewujudkan semangat reformasi kita
juga tidak bisa lagi melihat “dosa” sebuah rezim ditampuk oleh hanya seorang
Soeharto, melainkan kita harus memandangnya sebagai kesalahan kolektivitas kita
sebagai sebuah bangsa. Meninjau Soeharto juga bukan dengan kacamata hitam
putih, pak Harto juga manusia begitu seperti judul sebuah lagu, dia bisa tertawa,
menangis dan sekaligus juga dapat wafat. Soeharto juga manusia.

 

Memaafkan, tanpa mengetahui letak kesalahannya, sama bodohnya dengan
memberikan dukungan tanpa bersikap kritis. Memaafkan yang serta merta, juga terlalu
keji untuk ketokohan seseorang. Memaafkan tanpa dasar yang tepat, bukankah sama
artinya dengan memaksa seseorang untuk mengakui salah. Soeharto bahkan
sepatutnya menjadi pelajaran paling berharga bagi bangsa ini, dari Pak Harto
pula kita belajar untuk tidak menempatkan pemimpin tanpa cela, dan memberikan
hujatan tanpa mengerti dasar kesalahannya, atau kritikan tanpa solusi kreatif
untuk jalan alternatif.

 

TEROBOSAN HUKUM

 

Kasus perdata pak Harto mungkin cukup penting untuk dilanjutkan
mengingat perkara ini tentu akan berkait dengan citra pemerintah saat ini yang
berupaya menunjukan upaya memberantas korupsi. Disisi lain masyarakat mulai
berdatangan air bah simpati, mengingat rekam jejak sejarah dan jasa pak Harto
terus menerus dikumandangkan tiap hari oleh hampir segenap media di Tanah Air
ini.

 

Sebagai mantan mahasiswa yang turut serta menjadi saksi sejarah penting
pergantian era menuju reformasi seperti sekarang ini, saya kira semua
teman-temanpun terpanggil untuk memberikan pendapatnya meski demikian tentu
saya sadar betul bahwa tidak semua seragam persis dengan saya.

 

Terus mengejar persoalan perdata pak Hartopun bermuara pada
mempermalukan pak Harto, seolah Soeharto tetap bersalah, seolah pak Harto tetap
perlu dipreteli dan kalau perlu ditelanjangi. Begitukah sikap kita sebagai
ksatria? Sebagai aktivis?

 

Adakah jalan lain untuk bisa memberikan penghargaan yang tepat pada
orang yang telah berjasa pada bangsa ini namun juga tetap menyuguhkan wacana
kritis sehingga pak Harto bukan harus menjadi pesakitan juga bukan lantas kita
kultuskan.

 

Perlu terobosan hukum lain dari pemerintah, dan ini saya kira penting
mengingat bahwa, sampai akhir hayatnya pun 4 musim pemerintah belum juga
mengambil keputusan dan peradilan Soeharto yang mengambang juga makin membuat
masyarakat bingung. Penjahatkah atau Pahlawan
Soeharto?

 

Terobosan ini tentunya dapat di konsultasikan dari sisi hukum yudiridis
dan juga yurisprudensi hukum, serta melihat asas sosial dan realitas yang
berkembang di masyarakat saat ini. Bila hasilnya tepat maka bukan tidak mungkin
citra pemerintah semakin kokoh.

 

SOEHARTO dan SOFT
POWER

 

Pernahkah kita mendengar Pemimpin bangsa ini yang berpengaruh di
blantika regional dan internasional, bahkan mereka yang bekerja di perusahaan
Indosat ataupun Telkom mungkin tidak akan lupa bahwa mereka menjadi guru di
kawasan.

Kamboja

,

Vietnam

, Philipine dan
berbagai bangsa di kawasan ini belajar pada mereka soal satellite. Tanpa peran
dan instruksi Khusus dari pak Harto soal peluncuran SKSD Palapa tidak mungkin
kita bisa disegani. Dan ini peran Pak Harto. Bahkan pak Harto memainkan peran
Soft Power Indonesia dimata internasional secara individual melalui citranya
sebagai penjaga stabilitas kawasan yang sangat disegani.

 

Dimata dunia Internasional Soeharto juga bercitra negarawan dan ini
tentu juga bisa di mainkan secara cermat untuk mengatasi krisis image dari
carut marutnya bangsa ini di mata dunia internasional, pariwisata kita terpuruk
akibat bom bali, pernahkah anda dengar ini ketika pak Harto bekuasa? Bahkan
masih hinggap pameo sampai hari inipun bahwa suara daun jatuhpun masuk catatan intelijen
saat itu, dan apakah kita mau menafikan pak Harto sebagai penjaga stabilitas
kawasan?

 

Dimasa Soeharto pernahkah ada pulau yang lepas dari pangkuan ibu
pertiwi? Pernahkah Batik, Angklung dan berbagai khasanah kekayaan bangsa di
klaim pihak lain? Saya kira jelas karena makin cerobohnya kita menempatkan
pencitraan diri, bahwa bagimana mungkin dapat dihormati oleh orang lain apabila
kita tidak menghormati diri kita sendiri. Semakin hari bangsa lainpun makin melihat kita sebagai bangsa yang
sakit. Karikatif, dan terus dikalahkan dirinya sendiri.

 

Kita harus mendudukan persoalan pada posisi yang seharusnya. Demi kepentingan
nasional. Ini berarti pula menyatukan kemauan politik, untuk bertekad
memperlakukan Soeharto sebagai bagian dari sejarah bangsa, sebagaimana adanya.

 

MEMAAFKAN =
MEMAKSA SALAH

 

Dalam bahasa politik, seringkali penempatan makna sama persis dengan
agenda tersembunyi jadi bisa berarti eufemisme atau sarkasme. Pemaknaannya bisa
begitu terbalik—reverse meaning. Kita
masih ingat dengan bahasa diamankan. Dalam politik seringkali makna yang
terkandung sama sekali tidak menyentuh soal rasa aman atau keamanan.
Sebaliknya, justru berarti dianiaya.

 

Meski demikian niat kita untuk memaafkan Soeharto selayaknya tidak
dialamatkan untuk sekedar bahasa yang artinya terbalik tadi, sebab ini justru
untuk memberikan kita rongga bagi masa depan bangsa yang bermartabat. Dan
menurut hemat penulis ini lebih memiliki niatan profetis dan bermanfaat bagi
bangsa. Memaafkan Soeharto berarti bangsa ini akan dikenal dimata bangsa lain sebagai
bangsa yang besar yang mampu memaafkan kesalahan pemimpinnya, ini tentu akan
berguna bagi citra diplomasi kita di mata dunia lain. Bangsa mana yang tak
memiliki sejarah kelam dengan pemimpinnya? Hampir tidak ada saya kira.

 

Meski demikian saya kira keluarga juga pasti mengakui bahwa Soeharto
juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sehingga saya kira mereka
pasti akan menerima bilamana bangsa ini di ajak bersama-sama memaafkan
Soeharto. Dan saya kira perlu inisiatif untuk memulai sebuah gerakan besar
bersama-sama sebagai rekonsialiasi nasional. Ditambah dengan formula terobosan
hukum yang tepat,

 

Kita tentu sangat tidak ingin menjadi bangsa pendendam yang “saban” hari
hanya menggali kesalahan masa lampu dan lupa hari ini harga kedelai, yang
melambung tinggi, lupa bahwa di kawasan kita Indonesia bukanlah pemain kunci
lagi bahkan ia hanya sekedar kerbau yang besar yang dicucuk hidungnya oleh Singapura
dalam bidang telekomunikasi.

 

Di sisi lain, rasa hormat para generasi muda terhadap tokoh besar
seperti pak Harto, bung Karno, terbiarkan terus tergerus sehingga mereka tidak
lagi di kenal sebagai orang besar di blantika kawasan dan internasional, dan
satu lagi, generasi mendatang menjadi lebih sulit memahami gading yang
ditinggalkannya. Generasi mendatang juga makin tidak mengerti benang merah
sejarah bangsanya. Padahal sama kita tahu manakah ada gading yang tak retak?

 

PAHLAWANKAH
SOEHARTO

 

Saya percaya kebajikan era reformasi ini juga mengajarkan bahwa kita
menjadi bangsa yang demokratis yang saling menghargai arti perbedaan pandangan,
jangan juga kita menafikan bahwa mereka yang menganggap Soeharto Pahlawan karena
mungkin juga tidak sedikit atau bahkan jika ada survey untuk mengetahui citra Soeharto
di benak masyarakat jangan-jangan hasilnya masih melekat kuat.

 

Sebelum Partai Golkar mengangkat isu ini alangkah baiknya saya kira
melakukan dengan mendasarkan pada dasar-dasar yang demokratis pula sehingga
tidak lagi perlu di perdebatkan. Poling ataupun survey mungkin bisa menjawab
keinginan mayoritas masyarakat yang sesungguhnya. Atau jangan-jangan diperlukan usulan yang lebih kongkrit, referendum misalnya,
sebagaimana dilakukan di banyak negara untuk kebijakan yang sekiranya
menimbulkan polemik
dan ini bisa jadi solusi alternatif sekaligus terobosan
baru ketatanegaraan kita.

 

Meski demikian kita sangat hormat dan respek terhadap Soeharto namun
tidak memberi peluang sedikitpun bagi Soehartoisme, ataupun Soehartois untuk
kembali memimpin bangsa ini, cukup dan kita cukup kan peran pak Harto, dan
mengucapkan selamat Jalan dengan tanda hormat setinggi-tingginya bagi pemimpin
yang pernah membesarkan bangsa ini.

 

Selamat jalan pak Harto, biarlah kami juga mengenang pernah menjadi
bangsa yang disegani di kawasan ini dibawah kepemimpinanmu. Selamat Jalan Pak
Harto jasa mu akan kami kenang dan kami bangga pernah dipimpin oleh mu.

29
Oct

Indonesian Soft Power : SEBUAH KERTAS KERJA

Indonesian Soft Power

SEBUAH KERTAS KERJA

Mohammad Hamdan

The Power of
Soft Power

Ketika
kita mendengar ribuan orang antri di depan kedai Mc Donald di sebuah negeri
Tirai bambu. Atau ketika kita mengajak keluarga menonton di cineplek 21, sambil
makan pop corn, duduk tenang menyaksikan film import dari Hollwood, setelah itu
kita sekeluarga makan di Mac D, memesan Big Mac dan tentu saja lengkap dengan beberapa
cangkir Coca-Cola-nya. Sadar atau tidak k
ita semua dalam arena
penjajahan bernama Soft Power.

Soft Power adalah sebuah konsep
pemikiran politik dan kekuasaan paling kontemporer dalam arena ekonomi dan
budaya, yang juga berfungsi organis untuk mengkooptasi kekuasaan. Konsep Ini
memberikan pengaruh dan ketergantungan tanpa sebuah kekuatan militer. Seperti
yang saya contohkan diatas mengenai apa yang kita impor dari luar, tadi
ternyata adalah bagian dari kekuatan Soft Power.

Soft Power bisa jadi
sebenarnya sebuah sintesa yang berasal dari pemahaman Gramsci yang persuasi dan
Machiavelli yang koersi. Istilah ini dicetuskan oleh Joseph Nye, penulis Bound
to Lead: The Changing Nature of American Power
, Istilah ini sekaligus
menjawab pertanyaan berbagai kalangan, yaitu benarkah kita sedang menyaksikan
perubahan hakikat kekuasaan, bukan sekadar pergeseran kekuasaan? Bukan
menguasai, melainkan menyihir. Dan dampaknya jauh lebih dalam. Bagaimana
mungkin anda bisa dibilang dijajah, Jika anda sendiri menyukainya, bagaimana
mungkin anda mengatakan dipaksa, kalau anda sendiri ternyata harus antri untuk
mencicipinya.

Di
penghujung Perang Dingin, istilah ini menjadi sangat populer, Joseph Nye hendak
menunjukkan bahwa budaya memainkan peran yang semakin penting dalam politik
dunia. Sedangkan dampaknya teramat luas, baik secara ekonomi, pola konsumsi,
gaya hidup, kebiasaan, bahkan teologi, apa yang benar dan apa yang salahpun
bisa terdekonstruksi demikian rupa, terhidang dengan sangat menggiurkan. Ia
lantaran sudah terlanjur menjadi kebutuhan.

Seorang
sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. berpandangan, bahwa ”tindakan” (practice)
atau apa yag secara aktual dilakukan seseorang, merupakan bentukan dari (dan
sekaligus respons terhadap) aturan-aturan dan konvensi-konvensi budaya. Ia
mengandaikan korelasi secara dialektis hubungan kebudayaan (peta) dengan
tindakan tentang perjalanan. Kebudayaan adalah peta sebuah tempat, sekaligus
perjalanan menuju tempat itu.

Peta
adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Apa
yang disebut dengan kemelek-hurufan budaya adalah ”perasaan” untuk
menegosiasikan aturan-aturan budaya itu, yang bertujuan memilih jalan kita
dalam kebudayaan. Tindakan adalah performance dan kemelek-hurufan adalah
budaya. Tindakan seseorang mengajak pacarnya ke Mac D, menjadi pilihan untuk
mengajak teman kencan, adalah sebuah tindakan yang konvensional. Tentu menjadi
aneh ketika Dia mengajaknya ke Warteg.

Lantas bagaimana kemelek-hurufan budaya diterjemahkan ke dalam tindakan
seseorang? untuk menjelaskannya, Bourdieu mempunyai tiga konsep: 1. medan
budaya (cultural field), 2. habitus dan 3. modal budaya (cultural capital).
Bourdieu mendefinisikan medan budaya sebagai institusi, nilai, kategori,
perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki obyektif, yang kemudian
memproduksi dan memberi ”wewenang” pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas;
dan konflik antar kelompok atau antar individu yang muncul ketika mereka
bertarung untuk menentukan apa yang dianggap sebagai ”modal” dan bagaimana ia
harus didistribusikan. Yang disebut modal cultural oleh Bourdieu
meliputi benda-benda material (yang bisa mempunyai nilai simbolis), prestise,
status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi.

Kekuasaan yang dimiliki
seseorang dalam sebuah ”medan” (field), ditentukan oleh posisinya dalam medan
itu, yang pada gilirannya akan menentukan besarnya kepemilikan modal. Kekuasan
itu digunakan untuk menentukan hal-hal macam yang bisa disebut modal (keaslian
modal).

Modal cultural selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia
bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya,
pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau
berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun,
kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan
diplomatik.

Ini
menjelaskan bagaimana Bajaj Bajuri mendapatkan perhatian banyak orang. Bajaj
Bajuri bermain dilintasan medan
masyarakat kebanyakan di Indonesia. Hampir kesemua tokohnya mewakili
karakteristik, selera, pola konsumsi, pola aktivitas masyarakat Indonesia.
Sadar atau tidak karakteristik Bajaj Bajuri ini merupakan modal cultural
yang sekedar diangkat kembali. Dan pada saat bersamaan orang Indonesia memiliki
keterkaitan secara self full feeling prophecy.

Ada Apa Dengan Cinta
dan Eifel Im In Love, modal cultural yang bermain adalah karakteristik
anak muda yang bergaul, bergaya kelas menengah kota, out going seputar mall,
shoopers, gaul, funky. Meski demikian sebenernya, ada dua modal cultural yang
berbeda yang beroperasi antara Ada Apa Dengan Cinta dan Bajaj Bajuri, dengan demikian
apakah kedua hal tersebut memetakan dua jenis karakter penonton yang berbeda?
Anda pasti heran dengan karakteristik yang paradoks satu sama lain ini.

Pemahaman
seseorang akan modal cultural berlangsung secara tak sadar, karena menurut Bourdieu dengan cara
begitulah ia akan berfungsi efektif. Seperangkat pengetahuan, aturan, hukum,
dan kategori makna yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh Bourdieu disebut
habitus. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan
tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan dan konteks.
Dengan
begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai ”feel of the game”.

The Orchestra of Communication and Information

Medan
budaya, modal cultural dan habitus memerlukan sebuah pengelolaan. Dimana informasi
dalam era saat ini dengan asumsi masyarakat yang kompleks dan makin cerdas
tentu saja memerlukan sebuah strategi tersendiri. Oleh karenanya. Belajar dari
beberapa reality show dan program yang sempat menyita perhatian masyarakat.
Tentang bagaimana sebuah trend tercipta dan naik turunnya sebuah popularitas
ditengah abstraksi masyarakat itu sendiri. Tentu ada sebuah operasi “kuasa”
bermain di benak masyarakat. Tentang bagaimana mereka menentukan pilihan atau
sebaliknya memberikan alternatif. Ada sebuah ruang komunikasi dua arah yang
teramat interaktif. Bahkan boleh jadi hyperaktif untuk sekedar memberikan opini
atas pilihan mereka. (masyarakat).

The
Orchestra of Communication and Information adalah sebuah pandangan, tentang
bagaimana sebuah gagasan, lalu lintas informasi, dan strategi komunikasi
berpengaruh untuk mampu diposisikan untuk bisa di terima atau untuk
“menina-bobokan”. Pandangan seperti juga Paradigma Joseph Nye, berasal dari
pandangan soft power,. Tentang bagaimana menaklukan, membuat orang lain
bertindak dan melakukan apa yang menjadi keinginan kita tanpa sebuah operasi
represi. Bahkan lebih dari dari itu sifatnya adalah menyihir. Dan bukan sekedar
operasi propaganda dan hegemoni lainnya.

Soft
power tentu jauh lebih, halus dari hegemoni sekalipun, sebab hegemoni, kita
merasa sadar bahwa kita di perlakukan untuk melakukan hal tersebut namun soft
power justru kita melakukannya dengan sangat suka cita dan mendalam tentu saja.

Dunia Televisi, Sinema Dan Musik

Televisi
telah menjadi semacam alat penyihir, dimana konsumerisme dan komersialisme
menjadi ruang yang tak ada habis-habisnya. Seperti dalam beberapa survey, bahwa
televisi telah menjadi soko guru bagi perkembangan anak dan keluarga di Asia,
sedikitnya tercatat peningkatan yang sangat besar di Asia ini. Yang sangat
signifikan.

Untuk
itulah Televisi, Sinema, dan Musik sebagai alat tranfromasi makna serta simbol-simbol
yang awalnya sangat absurb menjadi demikian nyata, bahwkan, dalam
perkembangannya realitas sesungguhnya mampu di reorganisir melalui pencitraan
media ini. Sehingga tidak ayal. Televise daam kaitannya dengan perkembangan
informasi, justru seharusnya sudah dipandang sebagai bagian dari alat ketahanan
nasional.

Diskursus
televise dan ketahanan nasional, saat ini sudah sedemikian tak terelekaan.
Tidak bias di nafikkan peran media ini dalam membentuk citra, karakter, serta
pendidikan bangsa. Ini tentu saja menggambarkan kekuatan yang bias diperopleh
sekaligus, kerugian dan kehancuran yang tidak bisa diantisipasi dari perkembangannya.

Industri Citra Dan
Sektor Real

Jika Industri citra
merupakan software-nya, dan sektor real merupakan hardware-nya, hal ini bisa
terhubungkan dengan sangat mengagumkan serta saling memberikan simbiosis
mutualisme-nya yang menguntungkan. Di Jepang Aliansi industri animasi, telah
memungkinkan terjadinya pergerakan industri yang luar biasa.

Di Hollywood tentu
sudah bukan rahasia lagi ketika, teknologi otomotif yang di pamerkan oleh James
Bond menjadi sebuah propaganda yang membantu pemasaran mobil-mobi bermerek dan
mewah. Dan sebutah sederet ainnya. Yang merupakan bukti bahwa Industri citra
Juga memiliki dampak sangat ampuh utntk mngkomunikasikan fdan mentranformasikan
sepertangkat produk yang pada gilirannya tentu saja berkaitan sangat erat
dengan industri real.

Betapa
gambaran jelas dan sangat real terlihat dalam sektor pariwisata, bagaimana
sebuah kekuatan berperan untuk menarik minat wisatawan.Terbukti bahwa tantangan
dimana soft power mampu memberikan efek-efek yang tidak sedikit bagi perdagangan,
pariwisata, industri hilir dan hulu, pendidikan, kebudayaan serta berbagai oto
aktivitas dan kreasi masyarakat itu sendiri.

Narasi Membawa Moral Emansipasi

Ketika
Doraemon selalu membantu Nobita dengan berbagai peralatan yang tersimpan dalam
kantung ajaibnya. Dalam masyarakat Jepang, yang telah menjadi masyarakat
industri, Doraemon bisa diartikan sebagai simbol pemasar dan pengiklan yang
ideal. Doraemon mengerti persoalan, kebutuhan, dan angan-angan Nobita,
(konsumennya), serta mampu memberi jawaban atas persoalan tersebut. Alat-alat
Doraemon sangat mudah dioperasikan meskipun tergolong produk berteknologi
tinggi. Ini tentu saja menggambarkan hasrat kemajuan Jepang sendiri dalam
bidang teknologi.

Nobita, di sisi lain, mewakili
gambaran konsumen yang kreatif. Nobita menerima derita kehidupan kanak-kanaknya
dengan gembira, penuh semangat, dan imajinasi. Ketika persoalan telah
terselesaikan, ia tak segan-segan mencoba setiap peralatan untuk keperluan lain
yang tidak dimaksudkan oleh Doraemon perancang, pembuat, dan penjualnya. Sering
percobaan Nobita menyebabkan celaka. Namun, keingintahuan dan optimisme bocah
ini tidak pernah hilang. Diyakini, keingintahuan anak-anak, rasa bebas, dan
pikiran yang jernih pada akhirnya akan menghasilkan beragam produk berteknologi
tinggi, yang dibawa Doraemon dari masa depan.

Mengambil pelajaran dari Jepang,
sebagai penguasa ekonomi, tampaknya juga telah berhasil sejauh ini dengan
menyusun kekuasaan yang “kooptatif”, yaitu menjadikan orang lain
menghendaki apa yang dikehendaki Jepang. Jika benar dugaan Nye bahwa Jepang
bersikap fanatik terhadap budaya sendiri, apakah itu berarti Jepang tidak
menggunakan berbagai perangkat soft power, seperti daya tarik budaya,
ideologi, dan institusi-institusi internasional untuk mengejawantahkannya?

Fanatisme
Jepang tidak seburuk dugaan para pengamat, termasuk Nye. Di Jepang, kemajuan di
bidang artistik telah memacu proses produksi budaya. “Aliansi” di
antara pengusaha menjadikan berlangsungnya penyebaran budaya populer Jepang ke
seluruh Asia. Bahkan secara serius merambah dunia. Di Cina, ketika penjualan
buku komik rata-rata hanya mencapai 20.000 eksemplar, Doraemon terjual
900.000 eksemplar hanya dalam tiga tahun. Barang dagangan bergambar Doraemon
tersebar di seluruh kota dan toko termasuk toko milik negara.

Budaya Dan Milenarianisme

Perkembangan
Politik, Sosial dan Budaya dalam pergaulan global saat ini menjadi arena
penting untuk menggambarkan kondisi bangsa yang sesungguhnya. Fenomena
memboomingnya Serial Meteor Garden yang diikuti berbagai sekuelnya serta
berderet industri yang mem-backupnya (sinema dan musik) serta berbagai entitas
lainnya. Menjadi catatan tersendiri bahwa, ada kesamaan entitas ke-ASIA-an. Hal
ini juga bisa kita hubungkan dengan Kuch-Kuch Hotahe yang juga sama memboomingnya.Meski
nampaknya kita masih menjadi Penonton.

Kedua
hal tersebut memberikan asumsi bahwa identitas ke-ASIA-an sepertinya akan
menjadi trend ke depan, bersaing dengan terus akan mengalirnya berbagai entitas
Hollywood.Tentu saja menjadi peluang bagi dunia sinema dan musik serta industri
pendukung lainnya, bahwa ini harus disikapi dengan sangat tepat.

Soft Power Propecy

Segala
macam praktik, seperti seni penggambaran, komunikasi dan representasi, yang
mempunyai otonomi relatif dari bidang-bidang ekonomi, sosial, dan politik dan
yang sering muncul dalam bentuk-bentuk estetis. Film, Televisi, Drama, dan
Novel menjadi semacam media yang mengembangkan perannya sebagai industrialisasi
citra.

Imperium-imperium barat modern
dari abad ke sembilan belas dan kedua puluh, secara khusus banyak menaruh
perhatian pada studi bentuk-bentuk budaya menjadi bagian yang penting yang
menjadi obyek estetis yang kaitannya dalam masyarakat justeru menjadi acuan
paling organis. Tidak sedikit novel realistik maupun fiksi naratif berkaitan
dengan erat dengan sejarah dunia imperium itu sendiri.

Kekuasaan
untuk bercerita atau menghalangi cerita-cerita lain untuk terbentuk atau
muncul, adalah sangat penting dalam pertarungan kebudayaan dan lebih jauh
membangun imperium. Ini juga yang sangat terbuktikan dengan bagaimana media dan
media kebudayaan membangun struktur kekuatan ekonomi, politik, sosial, budaya
serta militer Amerika untuk menempatakannya pada posisi superior.

Kebanyakan
retorika ‘tata dunia baru’ yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah Amerika
sejak Akhir perang dingin—dengan ucapan selamat untuk diri sendiri yang berbau
harum, gaya kemenangan yang tak ditutup-tutupi dan pernyataan bertanggung jawab
yang sungguh-sungguh. Atas segala anasir yang ada di dbelahan dunia manapun.
Yang terpenting lagi adalah cerita-cerita narasi-narasi besar mengenai
emansipasi dan pencerahan, serta menggerakan orang-orang untuk bangkit
menyingkirkan penaklukan atas dirinya dan lingkungannya.

Kedua,
kebudayaan adalah sebuah konsep yang mencakup suatu unsur penyaring dan
pengangkat, gudang terbaik yang dimiliki setiap masyarakat yang telah dikenal
dan dipikirkan Kebudayaan adalah semacam panggung sandiwara dimana berbagai
kausa politik dan ideologi saling terkait. Bukannya menjadi suatu lingkup
kesantunan apollonia yang tenang, kebudayaan bahkan dapat menjadi sebuah medan
pertempuran dimana penyebab-penyebab itu menampakkan diri mereka secara
gamblang dan saling bertikai, menjadi jelas.

Mungkin saja ada data
yang menyediakan seberapa besar Toyota, terjual di negara yang disinggahi
industri citra dari Jepang tadi, atau bagaimana Toshiba dan Sony adalah merk
yang sangat di kenal di berbagai penjuru dunia, Mitsubushi, Yamaha, Fujitsu,
dan sebagainya. Sederet nama panjang yang akhirnya menembus pasaran dunia.
Bukan tidak mungkin, ia juga berkorelasi sangat positif dengan produk
industrialisasi citranya.

Kita tak perlu menghubungkannya dengan
Hollwood, dimana Mac Donald, Pizza Hut, Coca-Cola menjadi santapan kita
sehari-hari, adalah arena yang juga di reproduksi dari industrialisasi
citranya. Karena memang nyata dan terbukti keberadaannya. Dan secara sangat
tidak sadar kita justru menjadi korban sekaligus mangsa. Saya jadi teringat
sebuah cerita ketika, para aktivis Anti Amerika akan berdemo. Mereka berkumpul
untuk merumuskan tema aksi mereka di Mac Donald sambil menyantap burger, dan
Coca-Cola, kemudian disepakatilah hasil rumusan tema demonstrasi mereka ”Boikot
Produk Amerika”. Sungguh sebuah disonansi intelektual.

“Indonesian Soft Power”

Apakah
kita masih memiliki impian untuk membayangkan bahwa, Indonesia tidak hanya
dikenal dari Negara, dengan isu terorisme, atau hanya Bali, yang mampu di ingat
oleh benak, masyarakat dunia. Sulitkah
membayangkan Ayam Goreng Madam Surti menyaingi KFC atau MC Donad ala Amerika. Atau
Gado-gado yang populer itu pada dasarnya menggantikan Salad yang bisanya
tersaji di Pizza Hut.

Atau
Gudeg Jogja, Atau Nasi Goreng Bhakti, menjadi menu popular. Sementara orang
Amerika, setelah menonton film, Gatot Kaca 2, The Steele Muscle. Mampir
ke waralaba Warung Sunda. Ah, mungkin juga memang tidak mungkin, sekuel film
Gatot Kaca 2, sebuah film thriller menjadi box offices, sedangkan sebuah buku
anak ; Lupus : permen karet penyihir,
dicetak hingga kita harus antri untuk mendapatkan keluaran pertamanya. Entah
kapan itu semua bisa mewujud.

Nada
optimispun sebenarnya bukannya tidak ada. Daripada menakuti bangsa sendiri,
dengan takhayul dan misteri, tayangan serupa dengan dunia lain, atau percaya
nggak percaya dan sejenisnya mestinya kita ekspor keluar. Soal contoh modal
budayanya, kita bisa perlihatkan Debus misalnya, tidak sedikit yang
menyandingkannya dengan Voodoo. Mungkin kita bisa perlihatkan kemampuan
menggerakan mesin turbin pembangkit listrik dengan ilmu tenaga dalam atau
menangkap rudal, kemampuan pawang hujan misalnya tentu akan menyita perhatian
dunia. Sialnya kita masih krisis listrik, dan Jakarta saja masih sering
kebanjiran. Bagaimana orang percaya.

Jika mengambil
pemikiran Bourdieu dengan konsep: ”medan budaya”(cultural field), habitus dan
”modal budaya” (cultural capital). Maka pencarian identitas budaya seperti
Jepang dengan fanatismenya melahirkan karakter Doraemon, disini kita punya
Bajuri. Meski sedikit lucu, namun bisa saja Bajuri merupakan Tokoh pahlawan serba
bisa. Meski ia berprofesi sopir Bajaj. Atau sekalian Industri citra kita
possitioningnya memang humor. Jadilah citra kita citra yang lucu sekalian.
Tidak ada yang tidak mungkin. Meski demikian, apa yang sangat korelatif antara
desain industri citra Jepang dengan industri hardware-nya adalah. Teknologi,
serta “teknologi” untuk menularkan teknologi tersebut kesegala pelosok dunia.
Sehingga produk Jepang menjadi unggulan bersaing dengan produk Amerika.

Ide dan gagasan
millenarian, tenyata menjadi penting untuk mengukur sekaligus menjadi
pendongkrak penularan budaya. Gagasan modernitas jelas seiring dengan
perkembangan kondisi dan situasi global, sehingga ruang pergaulan yang semakin
meluas, gaya hidup yang semakin praktis, dan sebagainya ternyata mampu dibaca
oleh Jepang. Yahoo. Siapa yang tak kenal portal ini. Hampir seluruh manusia
pengguna internet didunia ini setengahnya memiliki alamat email disini.
Ternyata ia bukan berasal dari Amerika, melainkan sebuah usaha yang berasal
dari dua pemuda programming komputer dari Jepang. Yahoo. Setidaknya juga
menawarkan apa yang menjadi daya tarik libido modernitas yakni, kemajuan
teknologi. Disitu juga kunci soft ware, soft power yang ditawarkan dalam arena
kekinian, pergaulan dan situasi global.

Tayangan televisi,
film, drama, reality show masih dikelas satu belum beranjak kemana-mana, karena
kita bangsa yang cepat puas sehingga tidak perlu merasa meningkatkan mutu dan
menaikan kelas. Seandainya Gatot kaca rasional, modern, dan millenarian,
mungkin ia akan sepopuler Batman dan Spiderman. Ataupun juga layaknya
Megaloman. Sayangnya Industri citra kita
masih didunia lain dari mainstreem pasar dan logika. Percaya nggak percaya.
Jangan-jangan tidak ada yang percaya kalau kita bisa mewujudkan dan membangun
Industri citra kita menuju sebuah kekuatan Soft Power.

dn.2004

08
Jul

Bangga Sekaligus Sedih

Indonesia adalah Negara Asia Pertama di Piala Dunia?

Diakui atau tidak, Indonesia adalah negara Asia pertama yang berlaga di ajang Piala Dunia, tepatnya Piala Dunia 1938 di Prancis.

Meski saat itu belum merdeka, Indonesia mengusung nama Nederlandsche Indiesche atau Netherland East Indies atau Hindia Belanda.

Panasnya keadaan di Eropa dan sulitnya transportasi ke Prancis
secara tak langsung memberikan keuntungan. Jepang menolak hadir dan
memberikan kesempatan bagi Hindia Belanda untuk tampil mewakili zona
Asia di kualifikasi grup 12. Lalu Amerika Serikat yang jadi lawan
berikutnya menyerah tanpa bertanding.

Jadilah anak-anak Melayu ini melenggang ke Prancis.
Pengiriman kesebelasan Hindia Belanda bukannya tanpa hambatan. NIVU
(Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola
Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI yang telah berdiri April
1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan
Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain mereka yang dikirimkan.

Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Ditangani pelatih Johannes Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia
Belanda adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

Tercatat nama Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng,
Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack
Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan, dan kiri luar Nawir yang
juga bertindak sebagai kapten.

Pada babak penyisihan, Hindia Belanda langsung menghadapi tim tangguh, Hungaria, yang kemudian meraih posisi runner-up.

Tak banyak informasi yang didapatkan mengenai pertandingan di
Stadion Velodrome Municipale, Reims, 5 Juni 1938, tersebut. Pada
pertandingan yang disaksikan 9.000 penonton itu, Hindia Belanda tak
mampu berbuat banyak dan terpaksa pulang lebih cepat setelah digilas
6-0.

Meski belum menggunakan bendera Merah-Putih, inilah satu-satunya penampilan tim Melayu di Piala Dunia, hingga sekarang! (Koran Tempo, 11 Mei 2006)

03
May

Surat Terbuka untuk semesta

ini kata Ai :
> Kalo menurut gw sih maksudnya adalah "Mu" itu Tuhan gw. Trus kan gw hobi bgt sama pantai, kalo gw ke pantai gw ngerasa tinggal deket lagi sampe ke tempat Tuhan gw itu. Trus pandangan laut itu ga pernah putus, ga ada ujungnya. Jadi kalo gw bisa terbang atau jalan di atas laut or ngelewatin laut itu, berasa pengen menggapai Tuhan dengan kaki telanjang. Ga mungkin kan ke pantai pake sepatu, pasti nyeker.

ais yg religius.
hampir sama dengan kamu…
saya jg sebenernya berada disebuah pantai…
betapa feminimnya Tuhan-mu.

Tuhanku menurutku Maha Ada ; Omni Present, karena setiap ruang adalah konsekwensi sangat logis dari kehadiran dan eksistensi adanya Tuhan KU itu. oleh karena ruang adalah hasil ADA dari Tuhanku. maka Eksist-lah Ruang. namun datang sebuah pertanyaan kecil dari diriku.
bahwa Siapa yang menghadirkan Sang Maha Ada ?

sejenak aku tertegun karena aku sampai pada sebuah batas. persis seperti pantai punya km tadi.

Pasti ada yang maha Mengadakan. bahkan Sang Maha Mengadakah Maha Ada itu sendiri.

maka tentu Dia adalah Sang Maha Mengadakan ; Omni Re-present.

sederhananya mungkin begini.
Lalu Siapakah/Apakah Tuhannya Tuhan itu??

dalam fisika kita bisa temukan quark dan anti quark. persis seperti diorama tesis-anti tesis…

maka pasti ada sesuatu yang menyebabkan Segala ke-Maha ADA-an ini Ada.

dan pada titik itu aku persis sama dengan km.
merenung di sebuah pantai. Pantai Semesta. dalam pengembaraan itu aku duduk berhadap-hadapan dengan rotasi pembesaran semesta yang terus ada dan ada dalam eskalasi pembesaranannya. duduk diantara semesta/ruang dan bukan ruang. dengan keyakinan berhadap-hadapan dengan apapun yang membuatku Ada. dan yang maha mengadakan Ini (semesta).

pantai tentu diartikan sebagai penghujung. tapal batas antara tanah tempat berpijak dan air tempat segala hal untuk mengarungi.
dan pada kesempatan itu.

sama juga dengan km aku sering kali juga berenang-renang dengan berbagai gaya pemikiran untuk terus mengapung…
mencapai titik-titik terdalam dan teratas dari kemampuan utnuk terus mengarungi lautan.

ais yang feminim dalam beberapa ajaran yg Tuhannya maskulin. tentu mudah untuk seorang wanita mengalami fase orgasme spiritual. tp susahnya tentu untuk kaum pria karena orgasme spiritual tentu melahirkan anasir yang "melenceng" seperti halnya seorang Gay. alias homoseksual.
karena dia harus berguling di padang spritualismenya dengan Tuhan yang sama kelaminnya.

itu makanya gerakan kaum feminim belakangan mengganti beberapa redaksi dari beberapa kitab suci dari he menjadi she. ini mungkin akibat kesalahan teknis dari bahasa english yang banyak di anut kelompok ini.
bersyukurlah mereka yang menemuka Tuhannya tidak memiliki kelamin.

karena perasaan ruang reminim maupun ruang maskulin Tuhannya itu terasa sangat mendukung satu-sama lainnya.

oh ya.. soal pantai tadi..
km bisa nangkap kan kesamaan diantara kita??

selebihnya …aku cuma bilang.

TUHAN ; AKU BERSERAH!!!
(kayaknya menarik untuk ditaro di blogs)

dadan
Lelaki kecil dalam kurun waktu berlalu.

25
Mar

Budaya sebagai Medan Pertarungan Kuasa

Budaya sebagai Medan Pertarungan Kuasa

Oleh dadan hamdani

Cultural studies adalah salah satu paradigma yang cukup banyak memberikan perhatian terhadap kebudayaan. Jika selama ini studi mengenai kebudayaan terkesan menjurus pada karakter dikotomis, hitam-putih mengenai prosesi pembentukan dan kesimpulan-kesimpulan terhadap apa itu yang disebut kebudayaan, maka cultural studies lebih luas dan mendetail. Dengan perhatian itulah pembacaan atas ragamnya realitas budaya juga berhasil menempatkan sub-sub kebudayaan sebagai satu kenyataan spesifik dari paradigma modern lainnya. Salah satu contohnya adalah pembacaan atas sub-”kebudayaan” yang bernama komunikasi. Komunikasi bagi cultural studies bukanlah semata refleksi budaya manusia tanpa efek. Bahkan kebudayaan bisa pula dimengerti sebagai totalitas tindakan komunikasi dan sistem-sistem makna.
Hal yang penting dibahas dalam hubungan antara produksi makna dan kebudayaan adalah signifikansinya dalam perebutan makna. Sebagaimana kita ketahui, dalam kebudayaan suatu masyarakat dipastikan adanya perebutan makna antarsesama pelaku budaya. Perebutan makna di sini juga lekat dengan konflik yang sifatnya hierarkis (”penguasa” vs ”yang dikuasai”) atau juga yang sifatnya diametral. Dalam konteks pemaknaan kebudayaan seperti ini, adanya komunikasi dianggap sangat penting, bahkan determinan. Sebab, medium ”perang” yang digunakan adalah bahasa, yang berarti adalah komunikasi itu sendiri. Dalam konteks bahasa inilah maka tidak mengherankan jika kemudian posisi seseorang akan ditentukan oleh ”kemelek-hurufan budaya” (cultural literacy), yaitu pengetahuan akan sistem-sistem makna dan kemampuannya untuk menegosiasikan sistem-sistem itu dalam berbagai konteks budaya.
Salah satu tokoh yang memberikan perhatian terhadap soal ini adalah seorang sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurutnya, bahwa ”tindakan” (practice) atau apa yang secara aktual dilakukan seseorang, merupakan bentukan dari (dan sekaligus respons terhadap) aturan-aturan dan konvensi-konvensi budaya. Ia mengandaikan korelasi secara dialektis hubungan kebudayaan (peta) dengan tindakan tentang perjalanan. Kebudayaan adalah peta sebuah tempat, sekaligus perjalanan menuju tempat itu. Peta adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Apa yang disebut dengan kemelek-hurufan budaya adalah ”perasaan” untuk menegosiasikan aturan-aturan budaya itu, yang bertujuan memilih jalan kita dalam kebudayaan. Tindakan adalah performance dan kemelek-hurufan adalah budaya.
Marilah sejenak kita mengambil contoh dari sebuah film Jepang, Tampopo, yang mengisahkan adegan sekelompok pebisnis muda Jepang makan bersama dalam sebuah restoran bergengsi di Prancis. Perilaku kelompok dalam budaya bisnis Jepang dikenal bersifat sangat hierarkis. Dalam acara makan bersama macam ini kebiasaan yang umum berlaku adalah seseorang yang dianggap superior dalam kelompok akan terlebih dulu memesan makanan, kemudian orang lain tinggal mengikutinya saja. Kebiasaan itu jadi berubah ketika mereka harus ”tampil” di sebuah restoran Prancis, yang tentu saja menuntut kemelek-hurufan dalam makanan dan anggur Prancis. Seseorang yang dianggap pemimpin dalam kelompok ini ternyata buta huruf dalam wilayah ini: ia tak mengenal dan tak bisa membayangkan makanan yang terdaftar di menu. Ia juga tak tahu bagaimana menyesuaikan jenis anggur dengan jenis makanan yang dipilih. Akhirnya ia memesan makanan dan anggur sekenanya.
Semua anggota kelompok ini, kecuali satu orang saja, sama-sama buta hurufnya dan memilih hidangan dengan mengikuti hidangan pemimpinnya. Pesanan terakhir dari seseorang pebisnis muda, sangat berbeda dengan pesanan lainnya. Pesanannya menunjukkan bahwa ia sangat melek-huruf dalam makanan dan anggur Prancis. Ia tampak tenang menghadapi menu, membaca, dan menganalisisnya, dan menunjukkan betapa ia sangat tahu akan semua yang dilakukannya. Ia berbicara sebentar dengan pelayan, mengajukan pertanyaan ”bermutu”, dan akhirnya menjatuhkan pilihan yang sangat ”berselera”. Semua koleganya sangat terkesan dan ini membuka peluang yang lebih baik buat si pebisnis muda itu meningkatkan posisinya dalam dunia bisnis.
Lantas bagaimana kemelek-hurufan budaya diterjemahkan ke dalam tindakan seseorang? untuk menjelaskannya, Bourdieu mempunyai tiga konsep: ”medan budaya”(cultural field), habitus dan ”modal budaya” (cultural capital). Bourdieu mendefinisikan medan budaya sebagai institusi, nilai, kategori, perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki obyektif, yang kemudian memproduksi dan memberi ”wewenang” pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas; dan konflik antarkelompok atau antarindividu yang muncul ketika mereka bertarung untuk menentukan apa yang dianggap sebagai ”modal” dan bagaimana ia harus didistribusikan. Yang disebut modal oleh Bourdieu meliputi benda-benda material (yang bisa mempunyai nilai simbolis), prestise, status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi.
Kekuasaan yang dimiliki seseorang dalam sebuah ”medan” (field), ditentukan oleh posisinya dalam medan itu, yang pada gilirannya akan menentukan besarnya kepemilikan modal. Kekuasan itu digunakan untuk menentukan hal-hal macam mana yang bisa disebut modal (keaslian modal).
Modal selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya, pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun, kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan diplomatik.
Pemahaman seseorang akan modal berlangsung secara tak sadar, karena menurut Bourdieu dengan cara begitulah ia akan berfungsi efektif. Seperangkat pengetahuan, aturan, hukum, dan kategori makna yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh Bourdieu disebut habitus. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan dan konteks. Dengan begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai ”feel of the game”.***

12
Feb

SURAT TERBUKA UNTUK PENGGEMAR TUHAN

Penyederhanaan pada bentuk dan wujud "Tuhan" yang baku dan kaku. mmbuat kita alpa bahwa Tuhan yang menciptakan kita dan dan menghadirkan kita ke dunia ini juga. adalah Tuhan yang sama. Dia Maha Wujud yang juga menciptakan Alam Semesta Raya. Tuhan Jelas bukan sekedar Tuhan untuk manusia. tp Dia juga pasti Tuhan untuk Binatang, tumbuhan, bumi, bintang, galaksi, segala sesuatu yang terlihat dan Tuhan juga mewakili segala sesuatu yang tdk terlihat. Terlalu suci bukan? untuk bisa di katakan Tuhan menyerupai "sesuatu" yang kelihatan??? lalu bagaimana yng tidak kelihatan??? lalu dimana. Apakah bisa kita katakan Tuhan maha adil. kalau dia ternyata hanya menyerupai kambing, pasti kerbau menggangap tidak adil. bagaimana bisa adil kalau Tuhan ternyata seorang Negro. yakinlah bahwa Tuhan yang "tidak masuk akal" pastilah bukan Tuhan. karena Tuhan yang menciptakan akal untuk mencerna mana Tuhan yang membuat alam semesta raya dan mana Tuhan yang tiba-tiba menjadi Tuhan akan dapat di cerna oleh akal (buatan Tuhan asli) dalam sejarah dan peradaban manusia kita sudah mengenal bentuk2 "sembahan" kan mulai dari Sapi, patung bahkan manusia… bukan begitu?? lalu dapatkah kita bedakan Tuhan dengan tuhan??? lalu manusia yang mengerti hakikat Tuhan pasti bisa menangkap uluran tangan Tuhan yang tidak sama sekali berarti secara harfiah ada tangan besar raksasa yang di kiranya itulah tangan "Tuhan". sampe disini … siapapun anda saya sangat ingin bercengkerama sebagai sesama penggemar Tuhan terutama dalam penarian terhadap Tuhan ASLI made in Tuhan itu sendiri. SANG MAHA DIALEKTIKA. semoga kita bisa dikusi oke!!!

05
Feb

Kematian Tuhan

“……Pada mulanya, manusia hanya menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa Langit dan Bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadaNya. Dia terlalu luhur bagi ibadah manusia yang tidak memadai. Perlahan ia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh. Sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang…” Begitulah kira-kira apa yang dikemukakan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin of The Idea of God. Ia menyatakan bahwa telah ada suatu agama monoteis primitif. Sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka hanya mengakui satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Dan sejarah memang selalu terulang. Seperti sebuah episode yang selalu berulang dan berulang. Hal tersebut merupakan kontraksi sejarah manusia dengan sejarah itu sendiri. Begitu juga dengan kehidupan aktual kita, kita banyak sekali jumpai manusia hidup dengan berbagai ragam keyakinan. Juga dengan berbagai macam Tuhan ataupun Dewa. Pada awalnya tidak ada kultus khusus untuk-Nya dan Dia tidak pernah tampil dalam penggambaran apapun. Karena Dia memang teramat luhur bagi akal dan budi manusia yang teramat terbatas. Dalam sebuah diskusi dengan banyak kalangan, sebuah pro-testimoni kadang terlempar. Dengan nada yang sama yang juga dikemukakan oleh Schmidt, Kita diciptakan oleh Tuhan atau Tuhan diciptakan oleh kita. ? Satu-satunya metode deduktif tentang ini adalah Sosio-sejarah. Meski demikian sejarah memang lebih membiarkan kecenderungan, bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan dan bukan sebaliknya. Hal ini sekaligus peluang untuk dapat berkorespondensi dengan jalannya alur kebenaran yang di sajikan justru oleh sejarah sendiri. Karena sejarah bersifat skeptif, seperti halnya juga kebenaran eksak. Ia akan terus berpeluang untuk teruji. Orang yang tidak mempelajari sejarah akan di kibuli dongeng. Sebuah kata-kata bijak ini dipahat disebuah gereja di Philipina. Tuhan yang satu, tak terjangkau oleh pikiran manusia, namun dia dipersepsi secara berbeda-beda oleh berbagai kelompok manusia sepanjang sejarah. Bahkan setiap generasi hampir secara bersamaan menciptakan citra Tuhannya yang sendiri. Bagaimana mungkin makna ini jadi sedemikian paradoks. Disatu sisi Tuhan adalah satu, namun disisi lain setiap zaman nyatanya dalam sejarah menciptakan Tuhannya sendiri. Apakah mungkin Tuhan adalah suatu oknum. Tentu mengerdilkan arti esensinya. Tapi ini nyata, dan jelas-jelas faktuil. Dalam sejarah kita jumpai hal ini sebagai kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Lalu apakah mungkin, Tuhan yang ada saat ini kelak masih akan mengalami perubahan. Jawabannya …..justru sangat pasti. Tuhan mungkin tidak berubah, namun manusialah yang berubah. Persepsi manusialah peluang akan perubahan itu. Kita mungkin ingin mendekatkan Tuhan untuk menjadi sekedar teman tidur, yang menentramkan pada saat yang bersamaan kita juga memohon dia memberikan keajaiban-keajaiban, yang mampu menebalkan keimanan. Sementara itu kita lupa bahwa Tuhan yang sama juga, Tuhan yang menciptakan alam semesta. Yang memberi hukum-hukum atas kekekalan energi. Dan berjalannya semua pusat-pusat alam semesta. Lalu kita mulai memberi tekanan bawa Tuhan Subyektif lah yang benar dengan memberi gagasan akan kebenaran obyektifnya seputar keajaiban, dan Pro-survivorisme terhadap kehidupan kita. (soteriologi) Kita mungkin membayangkan betapa benarnya Tuhan yang kita sembah, lantaran ia memang memberikan keajaiban yang kita mohonkan. Sementara itu Tuhan yang sama juga memberikan kehidupan, dan jawaban-jawaban pada mereka yang justru tidak mempercayainya atau tidak sama dengan gambaran Tuhan yang “benar” yang kita sembah itu. Dan atau sama sekali tidak beragama Robinson Crusoe, merupakan sebuah epic, yang secara tidak sadar mewarnai teologi saat abad 15-18. Cerita ketika dia terdampar di perairan Polynesia. Dan mendapati teman seorang Negro. Yang dalam anggapannya Tuhan si Negro adalaha Setan. Tentu yang dia maksud “Setan” karena temannya berkulit hitam. Berwajah sangar. Dan bertuhan Buaya. Sedangkan Robinson Crusoe, menggambarkan Tuhannya persis seperti dirinya. Berkulit putih dan tentu saja rupawan. Ketika Temannya mengatakan yang disembahnya adalah yang Maha Kuat, maha tidak tertandingi, maha ada, maha tersembunyi dan menunjuk simbolisasinya adalah Buaya. Maka praktis lengkap sudah gambaran Setan itu. Hal ini sebuah gambaran subyektif terhadap kebenaran. Hanya saja kita mungkin luput bahwa, penggambaran citra Tuhan, mungkin berbeda dalam setiap keyakinan. Tetapi bahwa Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tak pernah diragukan lagi, dan hampir semua kepercayaan secara bersamaan menyatakannya. Kita dan semua hidup dalam sebuah botol yang sama. Dalam alam semesta yang sama. Apakah mungkin kita sang pembuat botol itu sendiri oknum yang berbeda. Jika si Lisa, Dian, Nita, Maureen. Lia, Dani Berbeda agama. Sudah tentu Tuhan. Yang disembahnya berbeda???. Sebagaimana Robinson Crusoe mempersepsikan bahwa yang disembah kawannya yang berkulit hitam adalah setan. Karena jauh dari gambaran fisik Tuhan orang Barat. Jika demikian pemikiran Crusoe bukan hanya mengandung kebencian rasial, melainkan Gambaran Tuhan yang maha Tidak adil. Karena hanya berkulit tertentu sehingga hanya mewakili satu gambaran. Sedangkan Tuhan Pasti Maha Wujud. Segala gambaran. Itulah dia. Pada beberapa dekade belakangan, bahkan terjadi diskursus yang sangat panas. Bahwa Karena Tuhan telah terlanjur secara khusus dikenal sebagai berjenis kelamin “laki-laki” meski dalam bahasa inggris kaum monoteis lazim menunjuk kata ganti-Nya dengan sebutan “he”. Hal ini tentu memberikan sebuah ketidakadilan gender. Dan secara terlanjur gramatikal bahasa Inggris memang membedakan gender sebagai kata ganti orang. Kaum feminis dengan sangat sadar menaruh keberatan terhadap hal ini, persoalan ini membawa Tuhan pada titik yang sangat sulit untuk dicerna. Sehingga jelas memberikan problem yang sangat serius terutama Penggunaan kata maskulin ini sebagai kata ganti Tuhan menjadi persoalan dalam bahasa bergender. Dan banyak pula kaum feminis yang secara agresif merubah kata ganti he menjadi she. Akan tetapi, dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Prancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis. Yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak ada dalam bahasa Inggris. Misalnya kata Arab Allah (nama tertinggi dari Tuhan) adalah maskulin secara gramatikal, tetapi kata esensi Tuhan. Yang Maha Pengasih dan Penyayang—Ar Rahman Ar Rohim. Adalah feminim. Dalam bible sendiri kata Allah dipakai. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan bahasa ketika masa dan tempat Yesus hidup. Yakni bahasa Aramin.(Arab Kuno) sehingga, tentu dalam masa awalnya Penggambaran tentang Tuhan tidak mengalami polarisasi. Namun ketika pengalihan bahasa. Dengan tanpa memperhatikan bahasa aslinya. Mungkin menjadi jalan menuju polarisasi gramatikal yang pada gilirannya mendorong distorsi makna. Bible sendiri ditulis pertama kali dalam bahasa Yunani. 350 tahun setelah Yesus. Dan sayangnya Paulus tidak memberikan salinan yang berbahasa Aramin. Tentu terjadi suatu rentang waktu yang panjang dan mengalami fase-fase polarisasi gramatikal. Untuk kurun waktu yang lama dan jauh dari apa yang sepatutnya ditangkap dalam awal-awal ajarannya, mungkin distorsi makna memang terkadang tidak terhindarkan. Ini mungkin jalan menuju kematian Tuhan. Justru ketika kita dengan mudah mengambil Tuhan sebagai alat kita mencapai kebenaran subyektif dan asosiatif. Tentu mengandung benih caufinisme. Terkadang cara pandang ini lebih memberikan kebutaan ketimbang pencerahan. Menjadi fundamentalis mungkin menjadi orang yang tenang dan damai, meski dibalik itu, sosok kebenaran akan sangat punitif dan orthodoks. Jika kita jujur tentu saja akan sangat banyak contoh aktual mengenai konlik yang dilandasi atas perbedaan keyakinan, agama, sekte, aliran dan sejenisnya. Perang misalnya. Mungkin menjadi situs paling aktual bagi penjelasan mengapa sosok kebenaran menjadi demikian rawan. Bahwa Perang sadar-ataupun tidak sadar. Disengaja maupun tidak. Jelas masih memiliki kaitannya dengan agama. Karena jika kita bicara jujur. Mungkin jangan-jangan kita memang masih mempersoalkan kebenaran atas kesadaran subyektif. Persis seperti gambaran Crusoe bahwa yang bukan gambaran Tuhan seperti dirinya adalah Gambaran kontra tehadap Tuhan. Mungkin Setan. Irlandia dan Inggris misalnya, sebagai pertarungan Katolik dan Protestan, atau Israel dan Palestina, sebagai wujud Jihad kaum muslim dan semangat zionisme Israel. Sebagai sebuah gagasan yang berakar pada keyakinan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang terpilih oleh Tuhan. (lihat bible). Dan inilah kematian Tuhan itu. Agama sebagai sumber keselamatan dan pengemban arah kedamaian justru menjadi alas konflik yang justru jauh lebih berakibat menyengsarakan. Yang pada gilirannya tentu menyengsarakan citra tentang Tuhan. Sehingga orang justru menjadi sangat tidak ber Tuhan untuk sekedar menghilangkan kegelisahan akan kesengsaraan yang ditimbulkan manakala orang beragama justru mempercayai Tuhan.

Lelaki kecil dalam Kurun masa berlalu…………..